aiem.. punjab

Jumat, 04 Januari 2013

may mother is my hero

Ibu ku adalah seorang wanita yang perkasa , segala macam pekerjaan bisa dia lakukan untuk menghasilkan uang asal halal dan kebutuhan keluarga serta saudara saudara nya terpenuhi. Ibuku adalah seorang wanita yang lahir dari keluarga tidak mampu, anak pertama dari 5 bersaudara. Dimasa kecilnya ia terkenal akan kepandaian nya baik dalam bidang agama, umum, bahkan dalam hal olah vocal. Selama mengenyam pendidikan di bangku sekolah yang notaben nya keras dan masih diliputi hawa penjajah dan PKI. Jarang sekali saat itu gadis kecil sekolah. Karena pendidikan hanya diperuntukan untuk anak laki – laki dan gadis dari kalangan bangsawan. Umumnya anak anak sebayanya focus untuk belajar dan bermain. Namun ibuku lain, meskipun dia masih anak – anak dia sadar akan peran nya sebagai anak pertama dari keluarga miskin pula. Dia merasa bersalah melihat orang tuannay banting tulang untuk menghidupi keluarga dan membiayai sekolah nya beserta adik – adik nya. Akhir nya dengan kebesaran hatinya dia pun merelakan sekolah nya tinggal demi untuk membantu kedua orang tuanya mencari nafkah agar adik – adik nya bisa tetap melanjutkan sekolah. Di usia 10 tahun itu ibuku sudah bekerja layak nya orang dewasa. Hal itu berlangsung sampai semua adik nya menempuh jenjang SMP. Dan selanjutnya mereka sama bekerja untuk meningkatkan taraf hidup mereka . Beranjak dewasa ibuku dijodohkan dengan seorang laki – laki yang tidak beda jauh nasibnya dengan ibuku.yah,, dia adalah ayah ku. Semasa kecil dia harus dihadapkan dengan kondisi keluarga yang broken home. Kemudian kedua orang tuanya hidup dengan keluarga baru mereka. Ayah ku adalah nak pertama dari dua bersaudara. Dan dia pun harus merelakan sekolah nya demi adik nya. Semenjak itu ayah ku di asuh oleh ayah kandung nya. Namun hidup dengan ibu tiri itu serasa di neraka. Dan ayah ku sudah diperlakukan layaknya jongos atau babu. Tidak hanya itu selama tinggal dengan ibu tirinya hampir tidak terbesit kebahagiaan dalam hidup nya. Namun meskipun ayah ku tidak mengenyam pendidikan formal, dia selalu belajar privat agama dengan kiayi desa setempat. Dan itu berlangsung selama masa remajanya. Dan dimasa remaja nya dia habiskan untuk mengurus masjid, mulai dari mengurus masjid, jadi muadzin, sampai panitia penerima zakat. Suara emas ayah ku lah yang mengantarkan ibuku padanya. Meski pertama hanya sekedar fans, namun berujung keluarga. Karena ini hanya berkaitan soal ibu, saya akan menjelaskan tentang peran ibuku dlam keluargaku. Ibuku adalah seorang pahlawan yang selain melahirkan, merawat, membesarkan memberi kasih sayang, menemani saat belajar, namun tidak akn pernah bisa jadi wali ataupun menjadi oranag yang di panggil di panggung saat kami menjadi juara kelas setiap tahun nya. Beliau hanya bisa ikut merasakan kesenangan sampbil menitihkan air mata. Andai kau tau sahabat – sahabat pembaca. Kedua orang tua kami tidak pernah mengenyam pendidikan yang mereka tau hanya lah mencari uang untuk kebutuhan kami, sekolah kami, masa depan kami mereka tidak mau nasib anak mereka sama dengan mereka diwaktu kecil. Bertahun tahun mereka mereka menutupi itu semua. Sampai akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya. Kenapa setiap hari mereka sellau tidak pernah ada untuk kami, seakan – akan kami anak tetangga yang di biayai oleh mereka. Semenjak kakak – kakak ku pondok, akulah yang tertua. Aku ahrus menggantikan peran kedua orang tua ku untuk menggantikan kasih sayang kedua orang tua yang tidak tersalurkan kepada adik – adik ku. Aku selalu merasa yang mereka tau hanya uang,uang dan uang. Sampai meluangkan waktu untuk melihat kami berangkat sekolah saja mereka tidak sempat. Mereka pergi pagi pulang malam. Namun beranjak dewasa aku mulai mengerti keadaan lah yang membuat semua itu terjadi. Aku harus membantu mereka mengasuh adik – adik ku. Itulah mengapa mereka menyekolahkan kami di MI yang sama , agar ada ikatan emosinal dari kita, dan mereka sadar akan pentingnya ilmu agama bagi masa depan kami. Mereka tidak pernah memaksa kita untuk memacu prestasi, mereka tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Karena mereka tau kemampuan anak berbeda – beda. Namun hal itulah yang menghidupkan pikiran dan nurani kami. Kami mulai berfikir bahwa kedua orang tua kami telah bekerja banting tulang pergi pagi pulang malam, selalu menuruti apa yang kita inginkan dan butuhkan, masa kita hanya diam di tempat membiarkan yang lain menggaet prestasi yang ada di depan mata? Oh tidak,, dengan keadaan seperti itu membuat kita berlomba melawan musuh dengan dorongan hati nuranni kami. Sehingga kita tidak hanya berprestasi di kelas, tapi juga di ajang unjuk bakat. Dan kebetulan keseluruhan saudaraku jago dalam hal olah vocal, sehingga kita menggaet piagam, dan trofi dimana –mana. Dan terakhir kemaren kakak ku menjuarai lomba qiro’ah tingkat jawa timur di UIN malang, adikku juara lomba adzan tingkat kecamatan, tinggal adikku yang terakhir nanda namanya, dia mulai menunjukkan kebolehan nya dalam olah vocal diberbagai acara di desa, dan event antar sekolah dasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
q suka hal yan g baru,suka membuat orang ketawa.suka mendramalisir suasana