aiem.. punjab

Jumat, 04 Januari 2013

Banyak nya pedagang (kaki lima) di Yogyakarta menyebabkan pejalan kaki kehilangan hak prerogatif nya


Di era globlisasi ini di kota bahkan di desa – desa kita sering menjumpai kendaraan berbahan bakar minyak seperti mobil, truk, bus, kereta api, dan yang paling terpopuler dan hampir setiap keluarga memilikinya yaitu motor Motor merupakan alat transportasi yang dinilai lebih murah dan lebih irit ongkos bensin maupun ongkos tenaga. Karena selain harganya yang relatif terjangkau juga cara penggunaan nya yang mudah. Apalagi dengan model motor sekarang yang sudah beraneka ragam model nya sehingga konsumen bisa memilih sesuai kebutuhan dan model yang mereka inginkan. Di yogjakarta sendiri penggunaan motor serta kendaraan pribadi lainnya sudah mencapai target hampir 65% sedang untuk kendaraan yang lain secara keseluruhan 25%. Bahkan pengemudi sepeda dan pejalan kaki yang merupakan ciri khas Yogyakarta sebagai kota pelajar yang asri, sejuk, dan nyaman itu hanya 10%. Istilah kasar nya sudah mulai minim dan hampir punah. Budaya Aksi bersepeda maupun tradisi jalan kaki mungkin sampai saat ini sangat jarang sekali di temui. Kita akan sering menemukan aksi bersepeda bareng maupun jalan bareng dalam beberapa event yang terus menerus sengaja di pawaikan sekedar untuk mengingat –ingat kembali budaya yang mulai terkikis. Namun pada kenyataan nya hidup itu semakin kesini semakin di kejar waktu dan orang mulai berpikir untuk melakukan sesuatu serba instan dan segera sehingga mulai melupakan nikmatnya jalan kaki yang lebih sehat, bebas polusi, no macet, menambah keakraban serta tercipta lingkungan sosial yang setara dan sama rasa. Untuk saat ini pemerintah selalu mengupayakan upaya – upaya pemberantasan terhadap kemacetan mulai dari membangun beberapa jalan – jalan alternative, pelebaran jalan sampai pada pengalokasian para pedagang kaki lima yang mulai benyebar tidak beraturan sehingga mengganggu para pengguna jalan terutama pejalan kaki. Dari dulu mata pencaharian rakyat Indonesia sebagian besar adalah berdagang. Dan pusat atau pengalokasian para pedagang – pedagang tersebut adalah pasar. Di pasar itulah para pedagang yang tidak memiliki kios pribadi dapat menyewa ataupun membeli kios – kios yang telah di sediakan oleh pemerintah. Namun pada kenyataan yang terjadi pengalokasian itu tidak di awasi dan kurang mendapat perhatian khusus karena masih saja di temui pedagang kaki lima yang berkeliaran di setiap sudut jalan. Akibatnya selain gagal nya upaya pembersihan kota, menambah nya produksi sampah, serta yang terpenting yaitu terganggu nya para pengguna jalan akibat pedagang – pedagang kaki lima lima tersebut yang memadati area –area ramai. Dan dalam hal ini yang seharus nya merasa di rugikan adalah para pejalan kaki yang sampai saat ini belum jelas ada tidak nya jalan khusus bagi pejalan kaki seperti di Negara – Negara tetangga seperti di eropa, jepang, korea, cina, yang telah menyediakan area khusus bagi para pejalan kaki yang tentunya sudah di sterilkan dari berbagai macam polusi serta pedagang kaki lima dan semacam nya. Sehingga kalau kita melihat ataupun mencari informasi dari berbagai Negara di penjuru dunia terutama di Negara maju, orang lebih banyak melakukan aktifitas dengan rutinitas jalan kaki. Jarang sekali orang – orang yang menggunakan kendaraan pribadi. Kebanyakan memakai jasa kereta api, peasawat, dan juga kapal laut. (mungkin karena mereka malas membeli kendaraan pribadi yang selain mahal juga penggunaannya sangat terbatas,, hehehe ) Nah dari situlah kita mungkin baru menyadari betapa di perhatikan nya pejalan kaki di Negara – Negara tersebut. Bahkan area untuk pejalan kaki selain lebih lebar dibanding jalan raya (jalan untuk kendaraan umum jadi, dengan adanya aturan –aturan tersebut para pengguna jalan tidak merasa terganggu dan tidak saling mengganggu satu sama lain. Selain itu disana juga di lengkapi fasilitas air gratis yang di sediakan khusus untuk mengatasi permasalan dehidrasi bagi setiap orang yang jalan. Padahal disana air sangat langkah, namun pemerintah disana mampu menyediakan air secara Cuma – Cuma. Sedang di Indonesia sendiri belum menerapkan hal seperti itu, padahal kita tau Indonesia tanah air beta, namun kenyataan nya air saja langkah dan di jadikan barang komersil untuk kepentingan pihak tertentu. Di Indonesia area khusus untuk pejalan kaki saja hampir tidak ada. Beralih fungsi yaitu sebagai persediaan tempat bagi para pedagang kaki lima untuk memperlebar kios – kios mereka . Seakan – akan mempunyai hak priogatif atas jalan – jalan yang sedang mereka tempati saat ini. Itu bisa kita temui di sepanjang jalan malioboro, sepanjang jalan di kampus UGM, sepanjang jalan solo dan di jalan – jalan lain nya di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Jadi wajar apabila kemacetan di area perkotaan semakin menjadi – jadi , itu penyebab salah satu nya yaitu kurang nya pengalokasian serta pengkondisisan pedagang kaki lima di sepanjang jalan utama kota terutama di Yogyakarta sendiri. Sehingga tidak bisa di salahkan apabila para pejalan kaki pun turut menggunakan jalan raya untuk melakukan aktifitas sehari – harinya Karena tidak tersedianya area khusus untuk mereka. Hal ini seharus nya jadi perhatian khusus bagi pemerintah setempat agar segara merapikan serta mensterilkan kembali area – area untuk para pengguna jalan terutama bagi pejalan kaki yang sudah kehilangan hak hak nya sehingga dapat meminimalisir kemacetan pada umumnya serta pencemaran lingkungan khususnya. (belum bisa menampilkan foto karena keterbatasan alat) Aim.doc, 08102012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
q suka hal yan g baru,suka membuat orang ketawa.suka mendramalisir suasana