aiem.. punjab

Jumat, 04 Januari 2013

Melemah nya tradisi “diskusi “membuat kampus UIN Sunan Kalijaga kehilangan identitas


Berbicara masalah kampus tentunya tidak terlepas dari hiruk piuk kegiatan mahasiswa di samping ngampus, seminar, penelitian, praktikum, ad pula organisasi, , UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), demo dan lain sebagainya. Terlepas dari semua itu ada satu lagi kegiatan yang paling urgent (penting) bagi mahasiswa pada umumnya yaitu ‘’DISKUSI”. Diskusi dalam artian disini yaitu kajian atau lebih familiar kita sebut belajar kelompok di luar jam kuliah untuk membahas mata kuliah yang sudah atau yang akan dipelajari pada kuliah selanjutnya agar terwujud pemahaman bersama atau dalam kamus Ilmu Komunikasi disebut frame of reference. Diskusi ini dilakukan oleh 10 – 20 mahasiswa dengan satu orang sebagai moderator sekaligus notulen, dan satu orang sebagai fasilitator atau pemateri. Fasilitator biasanya para senior atau seseorang yang di anggap lebih menguasai materi – materi yang akan di diskusikan. Sejauh ini saya mengamati kebanyakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga khusus nya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Humaniora sudah jarang melakukan rutinan berupa diskusi kelompok bahkan tidak sama sekali. Mahasiswa hanya aktif diskusi pada saat di kelas, bahkan kalaupun diskusi di luar yang dibicarakan kebanyakan masalah tempat observasi, proses melakukan riset (absensi motor, berapa anak yang ikut, penentuan hari dan jam melakukan riset, dan lain sebagainya), ngomongin sesuatu (ngerumpi) mulai dari cara berpakaian, penyampaian, bahkan kesalahan dosen pun dibahas dengan sedetail – detail nya dan se tuntas – tuntas nya. Jarang sekali menemui mahasiswa yang benar – benar melakukan diskusi tentang edukasi ( materi perkuliahan). Atau kalau tidak kebanyakan mahasiswa sekarang lebih suka membicarakan tentang fasion, new style, musik, serta film – film ter update, daripada membicarakan tentang buku apa saja yang ter update dan terlaris akhir - akhir ini, buku – buku mana saja yang sudah kalian baca, berapa banyak buku yang sudah kamu koleksi dan sebagai nya. Menurut saya, budaya diskusi yang efektif, teratur, terarah serta terjadwal hanya terjadi pada musim – musim OPAK (orientasi pengenalan akademik , yang di kampus –kampus lain di sebut OSPEK). Karena pada musim inilah mahasiswa terlihat aktif dan menikmati diskusi. Dan bagi senior adanya rasa tanggung jawab tinggi untuk membina, mendidik serta mengajarkan pentingnya berdiskusi . Namun pasca OPAK, terjadi normalisasi seakan – akan diskusi hanya sebagai ajang ritual pada waktu OPAK saja. Hal seperti itu menjadi soroti oleh ketua bem-j ilmu komunikasi saudara handini tentu saja meresahkan sebagian besar mahasiswa karena merasa kurang maximal dalam menerima penjelasan – penjelasan dosen, bahkan materi – materi yang sesuai dengan jurusan yang di ambil. Melalui wawancara dengan ketua BEM – J prodi Ilmu Komunikasi bahwasan nya dulu UIN Sunan Kalijaga terkenal dengan nama kampus putih karena pada masa orde baru UIN tumbuh sebagai kampus Non –Blok terhadap Partai Politik, kampus rakyat karena harganya terjangkau bahkan bagi masyarakat kalangan sekalipun , kampus perlawanan karena UIN Sunan Kalijaga sebagai kiblat untuk melawan otoritas. Baik perlawanan dengan jalan demo kepada pemerintah, maupun protes terhadap dosen (yang tidak bisa menyampaikan materi – materi secara maximal ) melalui jalan diskusi. “Dulu mahasiswa UIN aktif melakukan diskusi – diskusi , adapun waktunya tergantung schedule masing –masing kelompok. Hampir setiap hari seluruh area kampus ramai dipenuhi kelompok –kelompok yang sedang berdiskusi. Namun semakin kesini budaya diskusi ini semakin terkikis . Kecuali dalam lingkup organisasi yang selalu mempertahan kan tradisi tersebut. Terakhir saya merasakan suasana diskusi pada tahun 2009 selanjutnya masih ada beberapa , namun kisaran tahun 2010 - 2012 sudah sangat jarang bahkan tidak ada sama sekali. Saya berharap budaya diskusi itu dihidupkan lagi supaya mahasiswa tidak terkesan monoton (hanya menerima merujuk dosen tanpa mencari pengetahuan yang lebih luas)”. Tutur nya. Dari beberapa uraian tersebut tentunya bisa menjadi pelajaran sekaligus refleksi bagi seluruh masyarakat UIN Sunan Kalijaga terutama Fakultas Ilmu Sosial Dan Humaniora yang sadar akan penting nya berdiskusi serta memanfaatkan dengan sebaik – baik nya waktu luang yang banyak terbuang sia – sia dengan menghidupkan kembali budaya diskusi di awali dari kesadaran diri sendiri dengan mulai mengumpulkan sejumlah kelompok –kelompok kecil, missalnya teman dekat atau dengan teman sekelas untuk melakukan diskusi seminggu sekali atau menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Agar suasana diskusi kampus ini mulai hidup kembali karena bisa dikatakan sampai saat ini diskusi kampus sudah punah karena hampir tidak ditemui lagi kegiatan seperti itu. Selamat mencoba… ^_^ Aim.doc 27sept2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto saya
q suka hal yan g baru,suka membuat orang ketawa.suka mendramalisir suasana